Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Unexpected Meeting

Cinta.
Apa itu cinta?
Bagaimana rasa jatuh cinta?
Di umur remajaku ini, apakah tidak wajar bila aku belum pernah merasakan jatuh cinta?
Jujur, aku tidak tertarik dengan laki-laki manapun, tapi bukan berarti aku suka sesama jenis. Aku masih normal, hanya saja rasanya sulit untuk sekedar suka atau mengagumi seseorang.
Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karna aku dilahirkan dengan otak yang cerdas, yahh setidaknya bisa menjadi peringkat 1 paralel di sekolahku.
**
"Shef, ngapain ngelamun?" tanya Revi sahabatku. Saat ini aku sedang bermain ke rumahnya.
"Ha?" aku tersadar dari lamunanku, lalu menatapnya bingung, "Ada apa?" tanyaku sambil mengernyit.
"Kamu ngapain ngelamun yaelah,” jawabnya sambil memutar bola matanya sebal.
"Gak tuh, aku gak ngelamun,” jawabku singkat sambil mengutak-atik smartphoneku. Sepi, tak ada chat sama sekali, tapi aku terbiasa akan hal itu.
"Udah jelas jelas ngelamun masi aja boong, alibi banget, ucapnya sambil makan popcorn dan lanjut fokus ke film yang sedang kami tonton di rumahnya.
"Heum,” aku malas berbicara, entah kenapa aku merasa penat dan ingin refreshing.
"Pergi kemana gitu yuk,” celetukku malas.
"Kemana?" tanya Revi, tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar TV.
"Terserah, yang penting bisa bikin fresh, jawabku agak malas, sejenak aku meregangkan badan.
"Renang yuk,” jawab Revi setelah berpikir.
"Yukk, dimana?" tanyaku langsung semangat.
"Bukit Daun aja, enak adem, sekalian nyari cogan juga, sambil menyelam makan sandwich ye kan, jawab Revi ngelantur. Kebiasaannya sehari-hari.
"Heh, Kevinnya dikemanain buk? Apa hubungannya juga coba nyelam sama makan sandwich, jawabku cuek lalu mulai membereskan barang-barangku.
"Mau ke mana Shef?" tanyanya sambil menatapku masih dengan seenaknya tiduran di kasurnya yang empuk. Daya tariknya memang kuat sih, namun entah kenapa aku sedang tidak mood berlama-lama tiduran di kasurnya itu.
"Katanya mau renang, ah elah situ sendiri yang usul renang tapi masih tiduran mulu,” jawabku rada kesal juga melihat muka polosnya yang mengerjap.
"Loh, jadi? Sekarang?" tanyanya lagi.
"Gak, seabad lagi buk,” jawabku malas sambil mengambil jaketku dan bersiap pergi.
"Iye iye gitu aja marah sihh, jawabnya sambil berdiri dan menggeliat.
"Cepet, kutunggu di luar, jawabku lalu keluar dari kamar besarnya. Sedikit menyebalkan memang, tapi sudah biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Pathetic Love

Gadis berambut sepinggang dengan aksesori serba  pink  itu menyusuri koridor sekolah tanpa semangat. Berulang kali ia menghela napas berat, seakan tak kuat menghadapi hari ini. Beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan sinis, hal ini semakin membuat gadis itu merasa malas berada di sekolah. Kini, ia sudah bertekad kuat bahwa tak akan menemui laki-laki itu lagi. Sekalipun dulu sebelum kepindahannya mereka adalah sahabat karib, namun semuanya sudah terasa lain. Manusianya sama, namun rasa di antara mereka sudah berbeda. Sedikit manis, banyak pahitnya. Berbagai kasak-kusuk yang menyebut nama ‘Valda’ didengarnya sejak tadi, namun sama sekali tak dihiraukannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Gadis itu menghela napas lega ketika pintu kelasnya sudah semakin dekat, ia ingin segera masuk dan lepas dari pandangan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Bukan semua orang memang, hanyalah kaum perempuan saja. Ketika ia memasuki kelas, hanya beberapa orang saja yang sudah da...

Kisah Nyata Beribu Makna (2)

Ini lanjutan curahan hatiku yang kemarin ya, hehe ^^ Saat itu juga aku memutuskan berkata “ lek kalian panggah ngerasa Fitri seng nggawe adewe menang, silahkan. Aku gak bakal maen sesok. ” Seketika umpatan kasar tak berdasar pun terlontar dari mulut tajam mereka. Aku berusaha untuk menulikan telingaku, ya, keputusanku sudah bulat dan aku tak akan merubah keputusanku kali ini. “ Karep karepmu, egois og dipek dewe ” “ Ngeroso dibutuhne cah-cah to? Heh we i duk opo-opo ” “ Nyadar o to we i duk opo-opo, rasah kakean polah ” Dan banyak lagi umpatan kasar lain yang mereka ucap, aku terus berusaha untuk menahan. Di hari itu, aku sama sekali tidak diajak bicara oleh mereka, aku pun merasa ogah dengan mereka. Sempat kudengar pembicaraan mereka, “ Gak usah nyedek-nyedek cah wi neh, ketularan egois we ngko. Sawangen ae, menang po ra dee wi ngko ndek pemilihan PPIS. ”       Sebenarnya aku juga merasa bingung, yang egois itu sebenernya yang mana ya? Mereka m...

Synopsis The Sign of Four

My name is Doctor Watson. I worked as a doctor in the British Army for several years. But one day, I was shot in the shoulder and could not work in the army anymore. I retired from the army and came back to England. That is why I was living in London with my friend, Sherlock Holmes. My friend was a very clever man. He was the most famous private detective in London. Sherlock Holmes did not care id his clients were rich or poor. He enjoyed solving their interesting problems. He was very happy when he was working. One afternoon, he did not seem very happy. I was worried about my friend. Actually, he feel boring because he did not has some work. He can’t live without interesting problems and mysteries. At the moment, there was a knock at the door, our housekeeper came into the room carrying a small white card on a silver tray. Holmes picked up the card, Miss Mary Morstan. Perhaps, it is a new client for Holmes. Miss Morstan looked worried and unhappy. She tell us that her father was a ca...