Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Malaikat Penolongku

Aku adalah tipe orang yang serius dan tertata. Sejak kecil, aku memang dididik untuk tidak banyak berbicara hal yang tak penting. Hal ini akhirnya menjadi kebiasaanku sejak kecil hingga remaja. Aku lebih suka sendiri saat belajar, meski begitu aku tak kurang pergaulan karena temanku pun bisa dibilang banyak, tapi bila belajar aku paling membenci keramaian. Saat SD aku lalui dengan biasa, saat ada yang ramai pasti aku langsung berteriak dan semuanya akan diam. Jadi saat itu aku masih bisa menyesuaikan diri.
Saat SMP, Alhamdulillah aku masuk ke kelas Akselerasi. Mungkin beberapa dari kalian tau, kalau anak akselerasi itu rata-rata ber-IQ lebih dari 130. Dan biasanya anak-anak ber-IQ tinggi lebih introvert dan sikapnya cuek. Maka dari itu, saat SMP aku merasa lebih nyaman karena teman-temanku tidak banyak bicara saat belajar (meskipun saat bercanda juga ramai), tapi minimal mereka sangat menghargai guru saat mengajar. Maka dari itu, masa SMP kulalui dengan bahagia.
Namun saat SMA, aku kedapatan kelas yang isinya anak-anak humoris semua. Mereka sering bercanda dan ramai saat guru sedang mengajar, dan jujur itu sangat menggangguku. Awalnya aku sangat sulit untuk beradaptasi di sini karena mereka yang kebanyakan bicara, hingga aku sering marah-marah karena mereka ramai dan aku dianggap egois. Aku sebenarnya sudah menyadari kalau egois semenjak kecil, namun orang tuaku tak mempermasalahkannya, maka dari itu aku tak memikirkannya juga.
Beberapa teman sekelas tak suka padaku (khususnya perempuan yang sering ramai) dan aku menyadari hal itu, karena meski aku tak terlalu dekat dengan mereka, aku bisa peka akan aura yang mereka lontarkan padaku. Aku sebenarnya ingin mengubah sifatku ini menjadi lebih baik, namun aku bingung, aku harus mulai dari mana? Hingga suatu hari, aku masih sangat ingat dengan jelas kejadian ini. Suatu sore aku sedang duduk-duduk di depan sanggar PRAMUKA karena hari itu aku sedang piket sanggar. Ada salah satu teman sekelasku perempuan (sebut saja Runni) yang mendatangiku. Ia dulunya juga satu SMP denganku, maka dari itu aku memanggilnya ‘Kak Runni’.
Waktu itu, dia bercerita tentang persepsi buruk teman-teman terhadapku. Aku tak kaget sama sekali, karena pemikiranku tentang mereka memang tepat. Akhirnya aku bertanya, apa yang harus kulakukan untuk merubah sifatku ini? Akhirnya dia menyarankan beberapa hal yang harus kulakukan agar bisa berubah. Aku tak ingat detailnya, tapi satu hal yang masih kuingat adalah mulai keesokan harinya kumulai mencoba untuk melakukannya. Akhirnya, lambat laun aku pun bisa mengendalikan emosiku. Teman-teman yang awalnya sinis terhadapku pun akhirnya mulai membaik dan sampai sekarang kami berteman seperti biasanya. Terima kasih untuk kamu, yang sudah datang padaku di saat yang tepat dan memberiku saran yang sedemikian berharga. Mungkin tanpamu, aku masih jadi remaja egois yang sering marah.

Terima kasih banyak, Kak Runni.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017 dan Secuil Pengalaman Baru

Awal tahun 2017, waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 11 masuk semester 2. Di awal tahun ajaran, ada salah satu wartawan dari Koran Memo yang mewawancarai organisasi pramuka di sekolahku. Hanya perwakilan saja sih, karena yang diwawancarai hanya BPH dan salah satu anggota dewan yang lain. Kebetulan, aku menjabat sebagai Kerani (sekretaris), maka otomatis aku ikut diwawancarai. Waktu itu, aku mengatakan bahwa impianku di tahun ini adalah menjadi Duta Kesehatan Remaja Kota Kediri tahun 2017 dan bisa membuat karya yang disukai orang lain. Ini terjadi pada awal bulan Januari 2017. Selain itu, aku juga sangat ingin memenangkan olimpiade siswa kota mata pelajaran fisika (karena memang dari kelas 10 aku sudah mengikuti bimbingan olimpiade di sekolahku). Namun, Allah berkehendak lain. Karena begitu padatnya kegiatan pramuka pada bulan Januari hingga Mei, aku jadi tidak bisa untuk berkonsentrasi pada sesuatu yang ingin aku raih. Hingga akhirnya, ketika teman-temanku mengikuti beberapa...

Hujan?

Ketika riak air turun setitik demi setitik dari tata surya Ku bersuka cita menyelami kenikmatan dunia tiada tara Warna warni cahaya nan apik berbaur menjadi satu Karena itupun ku teringat masa lalu Ya, kenangan itu, terlintas begitu saja Bagai pelangi yang indah, namun hanya fatamorgana Senyum dan bayangannya pun masih amat membekas Walau ku mengerti kini ku tak lagi pantas Kenangan demi kenangan pun teringat kembali Bagai rangkaian kisah masa lalu yang diputar kembali Masa-masa suka dan duka Yang sempat dilalui berdua Meski kini kutau kau sudah jadi miliknya Entah kenapa, hatiku kembali menghangat saat mengingatnya Seperti baru kemarin ku merasakan suka Dan langsung dihantam dengan duka Gerimis tipis membelai rambutku lembut Udara dingin melambai-lambai menebar ketenangan Energi positif perlahan memasuki pikiran Dan akhirnya ku tersadar akan satu kenyataan Bahwa ia tak lagi serupa, meski fisiknya masih sama

Secuil Cerita Tentang ODOP dan Aku

Menulis. Sesuatu hal yang menurut beberapa orang mudah. Awalnya, aku pun merasa begitu karena semua beban yang ada di ubun-ubun bisa kutuangkan dalam tulisan. Meskipun bentuknya benar-benar awut-awutan dan jauh dari kata benar. Selama itu, aku masih merasa bahwa menulis adalah sesuatu hal yang mudah sebelum kutemukan komunitas menulis paling keren yang benar-benar kucintai ini. One Day One Post . Awal memasuki komunitas ini, aku merasa ketar-ketir juga karena takut tak bisa konsisten dalam menulis. Hingga akhirnya hari demi hari berlalu dan aku beserta 46 orang lainnya dinyatakan lulus dari ODOP. Tapi, perjuangan tak hanya sampai di situ saja. Masih ada materi untuk kelas lanjutan yang mewajibkan anggotanya untuk memilih antara fiksi atau non fiksi. Dan karena kesenanganku adalah berkhayal, maka aku pun memilih fiksi untuk menjadi kelanjutan studiku. Masuk di kelas fiksi, aku merasa benar-benar bodoh. Tulisanku jauh sekali di bawah kawan-kawan seperjuangan yang rata-rata sudah...