Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Sisi Kehidupan

Jauh di seberang sana
Anak-anak usia belia
Tak mengenal angka
Bahkan huruf pun, mereka buta
                       Di sana, sangat jauh di sana
                       Mereka berjalan menyusuri hutan
                       Tertatih mengarungi lautan
                       Tuk sekedar duduk di rumah reyot
                       Menanti guru memberi curahan ilmu
Sekalipun hanya di bangunan tua
Sekalipun ilmunya tak seberapa
Sekalipun guru yang ada belum layak
Tapi semangat mereka tak pernah padam
                       Belajar, hanya itu yang mereka pikirkan
                       Pintar, hanya itu tujuan akhirnya
                       Berguna, untuk masa depan bangsa
                       Itu yang mereka cita-citakan
Mereka terlalu lugu mengambil langkah
Mereka belum dewasa, masih sangat belia
Sekecil apa pun ilmu yang ada, begitu berarti bagi mereka
                       Sedangkan di sini,
                       Bahkan jarak tak lagi berjarak
                       Kuda mesin sebagai pengantar setia
                       Dengan gedung megah, bertingkah mewah
                       Guru profesional, namun masih saja mengeluh dan susah
Akankah kau pernah terpikir tentang mereka?
Akankah kau pernah terbayang perjuangan mereka?
Akankah kau mengerti rasanya jadi mereka?
Akankah kau bisa seperti mereka?
                       Dengar, dengarlah kawan
                       Hanya padamu harapan disandangkan
                       Hanya padamu cita-cita dipertaruhkan
                       Hanya padamu masa depan bangsa dibebankan
                       Bangkitlah melawan arus yang mendera
                       Kuasai dirimu dengan sikap optimis
                       Lawan bebatuan terjal yang mengusik
Ingat, engkau adalah harapan
Masa depan ada di tanganmu
Harapan terpendam ada di pundakmu
Nasib bangsa ini, engkau yang tentukan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Pathetic Love

Gadis berambut sepinggang dengan aksesori serba  pink  itu menyusuri koridor sekolah tanpa semangat. Berulang kali ia menghela napas berat, seakan tak kuat menghadapi hari ini. Beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan sinis, hal ini semakin membuat gadis itu merasa malas berada di sekolah. Kini, ia sudah bertekad kuat bahwa tak akan menemui laki-laki itu lagi. Sekalipun dulu sebelum kepindahannya mereka adalah sahabat karib, namun semuanya sudah terasa lain. Manusianya sama, namun rasa di antara mereka sudah berbeda. Sedikit manis, banyak pahitnya. Berbagai kasak-kusuk yang menyebut nama ‘Valda’ didengarnya sejak tadi, namun sama sekali tak dihiraukannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Gadis itu menghela napas lega ketika pintu kelasnya sudah semakin dekat, ia ingin segera masuk dan lepas dari pandangan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Bukan semua orang memang, hanyalah kaum perempuan saja. Ketika ia memasuki kelas, hanya beberapa orang saja yang sudah da...

Kisah Nyata Beribu Makna (2)

Ini lanjutan curahan hatiku yang kemarin ya, hehe ^^ Saat itu juga aku memutuskan berkata “ lek kalian panggah ngerasa Fitri seng nggawe adewe menang, silahkan. Aku gak bakal maen sesok. ” Seketika umpatan kasar tak berdasar pun terlontar dari mulut tajam mereka. Aku berusaha untuk menulikan telingaku, ya, keputusanku sudah bulat dan aku tak akan merubah keputusanku kali ini. “ Karep karepmu, egois og dipek dewe ” “ Ngeroso dibutuhne cah-cah to? Heh we i duk opo-opo ” “ Nyadar o to we i duk opo-opo, rasah kakean polah ” Dan banyak lagi umpatan kasar lain yang mereka ucap, aku terus berusaha untuk menahan. Di hari itu, aku sama sekali tidak diajak bicara oleh mereka, aku pun merasa ogah dengan mereka. Sempat kudengar pembicaraan mereka, “ Gak usah nyedek-nyedek cah wi neh, ketularan egois we ngko. Sawangen ae, menang po ra dee wi ngko ndek pemilihan PPIS. ”       Sebenarnya aku juga merasa bingung, yang egois itu sebenernya yang mana ya? Mereka m...

Synopsis The Sign of Four

My name is Doctor Watson. I worked as a doctor in the British Army for several years. But one day, I was shot in the shoulder and could not work in the army anymore. I retired from the army and came back to England. That is why I was living in London with my friend, Sherlock Holmes. My friend was a very clever man. He was the most famous private detective in London. Sherlock Holmes did not care id his clients were rich or poor. He enjoyed solving their interesting problems. He was very happy when he was working. One afternoon, he did not seem very happy. I was worried about my friend. Actually, he feel boring because he did not has some work. He can’t live without interesting problems and mysteries. At the moment, there was a knock at the door, our housekeeper came into the room carrying a small white card on a silver tray. Holmes picked up the card, Miss Mary Morstan. Perhaps, it is a new client for Holmes. Miss Morstan looked worried and unhappy. She tell us that her father was a ca...