Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Hujan?

Ketika riak air turun setitik demi setitik dari tata surya
Ku bersuka cita menyelami kenikmatan dunia tiada tara
Warna warni cahaya nan apik berbaur menjadi satu
Karena itupun ku teringat masa lalu
Ya, kenangan itu, terlintas begitu saja
Bagai pelangi yang indah, namun hanya fatamorgana
Senyum dan bayangannya pun masih amat membekas
Walau ku mengerti kini ku tak lagi pantas
Kenangan demi kenangan pun teringat kembali
Bagai rangkaian kisah masa lalu yang diputar kembali
Masa-masa suka dan duka
Yang sempat dilalui berdua
Meski kini kutau kau sudah jadi miliknya
Entah kenapa, hatiku kembali menghangat saat mengingatnya
Seperti baru kemarin ku merasakan suka
Dan langsung dihantam dengan duka
Gerimis tipis membelai rambutku lembut
Udara dingin melambai-lambai menebar ketenangan
Energi positif perlahan memasuki pikiran
Dan akhirnya ku tersadar akan satu kenyataan
Bahwa ia tak lagi serupa, meski fisiknya masih sama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Pathetic Love

Gadis berambut sepinggang dengan aksesori serba  pink  itu menyusuri koridor sekolah tanpa semangat. Berulang kali ia menghela napas berat, seakan tak kuat menghadapi hari ini. Beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan sinis, hal ini semakin membuat gadis itu merasa malas berada di sekolah. Kini, ia sudah bertekad kuat bahwa tak akan menemui laki-laki itu lagi. Sekalipun dulu sebelum kepindahannya mereka adalah sahabat karib, namun semuanya sudah terasa lain. Manusianya sama, namun rasa di antara mereka sudah berbeda. Sedikit manis, banyak pahitnya. Berbagai kasak-kusuk yang menyebut nama ‘Valda’ didengarnya sejak tadi, namun sama sekali tak dihiraukannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Gadis itu menghela napas lega ketika pintu kelasnya sudah semakin dekat, ia ingin segera masuk dan lepas dari pandangan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Bukan semua orang memang, hanyalah kaum perempuan saja. Ketika ia memasuki kelas, hanya beberapa orang saja yang sudah da...

First Impression

“Shariaaa tungguinnnn,” teriak seorang gadis berjilbab putih dari ujung koridor sambil mengangkat sedikit rok biru dongker nya agar langkahnya lebih leluasa. Bros berwarna merah dengan bentuk stroberi yang terpasang manis di kepala sebelah kirinya berayun-ayun kecil mengikuti setiap langkah kakinya yang tergesa. Sementara di ujung koridor yang lain, gadis dengan seragam yang sama dengan gadis tadi masih berjalan santai tanpa menghiraukan teriakan kawannya itu. Langkahnya tetap sama, tanpa berkeinginan untuk mengurangi kecepatannya. Dari wajahnya tersirat senyuman iseng yang menyebalkan, tentu tanpa sepengetahuan kawannya. “ Hoy Shariaaa!! Tungguinn!” teriak gadis itu lagi sambil menambah kecepatannya untuk menyusul kawannya yang sedang menulikan diri. “ Hueh dipanggilin daritadi juga,” ucap gadis itu setelah bisa menyejajarkan langkahnya dengan gadis satunya, nafasnya lumayan terengah juga karena berlarian dari kelas mereka yang terletak di koridor paling ujung. “Salah sendiri...

Kisah Nyata Beribu Makna (2)

Ini lanjutan curahan hatiku yang kemarin ya, hehe ^^ Saat itu juga aku memutuskan berkata “ lek kalian panggah ngerasa Fitri seng nggawe adewe menang, silahkan. Aku gak bakal maen sesok. ” Seketika umpatan kasar tak berdasar pun terlontar dari mulut tajam mereka. Aku berusaha untuk menulikan telingaku, ya, keputusanku sudah bulat dan aku tak akan merubah keputusanku kali ini. “ Karep karepmu, egois og dipek dewe ” “ Ngeroso dibutuhne cah-cah to? Heh we i duk opo-opo ” “ Nyadar o to we i duk opo-opo, rasah kakean polah ” Dan banyak lagi umpatan kasar lain yang mereka ucap, aku terus berusaha untuk menahan. Di hari itu, aku sama sekali tidak diajak bicara oleh mereka, aku pun merasa ogah dengan mereka. Sempat kudengar pembicaraan mereka, “ Gak usah nyedek-nyedek cah wi neh, ketularan egois we ngko. Sawangen ae, menang po ra dee wi ngko ndek pemilihan PPIS. ”       Sebenarnya aku juga merasa bingung, yang egois itu sebenernya yang mana ya? Mereka m...