Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Lentera Kecilku

Hidup ini suram
Tanpa arah, tanpa tujuan
Hanya jalan buntu yang kudapat
Tanpa arah pasti tuk melangkah
Kubutuh dia
Kubutuh inspirator kecilku
Kubutuh motivator hidupku
Kubutuh dia.. penyemangat hidupku
Pengisi relung-relung hatiku
Meski dia tak sempurna
Meski dia kadang membuatku gundah
Meski dia susah dikendalikan
Tapi hati ini tetap berkata,
Aku sayang dia
Dia bagai lentera kecil di kegelapan malam
Dia bagai bintang penerang kegelapan
Lentera kecil penentu arah
Bintang kecil penerang arah
Tanpa dia, akankah aku akan sebahagia ini?
Akankah ku bisa tersenyum selebar ini?
Akankah ku bisa tertawa selepas ini?
Dia yang membuatku bangkit
Dia yang menyadarkanku
Dia yang sabar memberiku semangat
Untuk berlanjutnya hidup ini
Lelaki itu..
Yang melukis garis senyum di wajahku
Yang menoreh kenangan indah di hidupku
Yang membuatku melihat pelangi lebih lama
Tuhan, sampaikan salamku untuknya
Untuk lentera kecilku
Yang kan slalu kukenang
Sepanjang masa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Pathetic Love

Gadis berambut sepinggang dengan aksesori serba  pink  itu menyusuri koridor sekolah tanpa semangat. Berulang kali ia menghela napas berat, seakan tak kuat menghadapi hari ini. Beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan sinis, hal ini semakin membuat gadis itu merasa malas berada di sekolah. Kini, ia sudah bertekad kuat bahwa tak akan menemui laki-laki itu lagi. Sekalipun dulu sebelum kepindahannya mereka adalah sahabat karib, namun semuanya sudah terasa lain. Manusianya sama, namun rasa di antara mereka sudah berbeda. Sedikit manis, banyak pahitnya. Berbagai kasak-kusuk yang menyebut nama ‘Valda’ didengarnya sejak tadi, namun sama sekali tak dihiraukannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Gadis itu menghela napas lega ketika pintu kelasnya sudah semakin dekat, ia ingin segera masuk dan lepas dari pandangan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Bukan semua orang memang, hanyalah kaum perempuan saja. Ketika ia memasuki kelas, hanya beberapa orang saja yang sudah da...

First Impression

“Shariaaa tungguinnnn,” teriak seorang gadis berjilbab putih dari ujung koridor sambil mengangkat sedikit rok biru dongker nya agar langkahnya lebih leluasa. Bros berwarna merah dengan bentuk stroberi yang terpasang manis di kepala sebelah kirinya berayun-ayun kecil mengikuti setiap langkah kakinya yang tergesa. Sementara di ujung koridor yang lain, gadis dengan seragam yang sama dengan gadis tadi masih berjalan santai tanpa menghiraukan teriakan kawannya itu. Langkahnya tetap sama, tanpa berkeinginan untuk mengurangi kecepatannya. Dari wajahnya tersirat senyuman iseng yang menyebalkan, tentu tanpa sepengetahuan kawannya. “ Hoy Shariaaa!! Tungguinn!” teriak gadis itu lagi sambil menambah kecepatannya untuk menyusul kawannya yang sedang menulikan diri. “ Hueh dipanggilin daritadi juga,” ucap gadis itu setelah bisa menyejajarkan langkahnya dengan gadis satunya, nafasnya lumayan terengah juga karena berlarian dari kelas mereka yang terletak di koridor paling ujung. “Salah sendiri...

Kisah Nyata Beribu Makna (2)

Ini lanjutan curahan hatiku yang kemarin ya, hehe ^^ Saat itu juga aku memutuskan berkata “ lek kalian panggah ngerasa Fitri seng nggawe adewe menang, silahkan. Aku gak bakal maen sesok. ” Seketika umpatan kasar tak berdasar pun terlontar dari mulut tajam mereka. Aku berusaha untuk menulikan telingaku, ya, keputusanku sudah bulat dan aku tak akan merubah keputusanku kali ini. “ Karep karepmu, egois og dipek dewe ” “ Ngeroso dibutuhne cah-cah to? Heh we i duk opo-opo ” “ Nyadar o to we i duk opo-opo, rasah kakean polah ” Dan banyak lagi umpatan kasar lain yang mereka ucap, aku terus berusaha untuk menahan. Di hari itu, aku sama sekali tidak diajak bicara oleh mereka, aku pun merasa ogah dengan mereka. Sempat kudengar pembicaraan mereka, “ Gak usah nyedek-nyedek cah wi neh, ketularan egois we ngko. Sawangen ae, menang po ra dee wi ngko ndek pemilihan PPIS. ”       Sebenarnya aku juga merasa bingung, yang egois itu sebenernya yang mana ya? Mereka m...