Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Penuh Cerita

Hari itu, Tuhan mempertemukan kita lagi Hari terindah yang kuketahui Dapat melihatmu lebih dekat Meski hanya kulihat selagi lewat Kau, dengan badge merah terjahit di lengan seragammu Kau, yang baru mengawali masa SMA mu Putih biru warna seragammu kala itu Dengan penuh senyum, kau menapaki hari pertamamu Pengenalan Lingkungan Sekolah, dan kegiatan lainnya Kau ikuti dengan tertib dan bahagia Karenamu pula hati ini ikut bersuka cita Meski hanya penikmat candamu dari balik aula Aula, tempat pertama ku melihatmu lagi Setelah sekian lama tak pernah berjumpa Meski tak akan kembali bersama Sedikit perih memang, ketika kutau kau sudah bersama yang lain Namun aku tak boleh menyesali semua ini Setidaknya, Tuhan sedang menyiapkan laki-laki terbaik untukku nanti

Sendu

Senyum itu Masih menghias manisnya bibirmu Masih terlukis indah di wajahmu Masih terlihat sama seperti dulu Sikap sopan itu Cara jalan seperti itu Dan cara menyapa macam itu Yang membuatku jatuh hati karenamu Binar mata itu, masih saja seperti dulu Senyum menawan itu, juga masih seperti dulu Sikapmu pada semua orang, masih sama seperti dulu Meski kini bukan lagi untukku Setidaknya, ku masih bisa menjadi penikmat senyummu Pengagum rahasiamu Dan pecinta binar matamu Walau dalam sendu

Sinar dalam Jiwa

Kau terdiam dalam sendu yang mendalam Mata elangmu yang dulu selalu tajam Kini, terlihat sayu dan diam Dulu, mata ini yang buatku jatuh hati Hingga berani berkorban diri sendiri Dulu, mata ini selalu ceria Berbagi canda tawa pada semua Dulu, kita pernah berbagi rasa Kita pernah berbagi tawa Dan kita juga pernah berbagi duka Namun kini, bukan apa-apa Ya, mungkin memang sudah habis masanya Mungkin memang sudah terkikis rasanya Dan memang sudah tak pantas lagi aku untuknya Namun, mengapa binar matamu berubah jua? Mengapa sinar matamu meredup jua? Mengapa kau tak ingin membaginya pada semua lagi? Mengapa kau menutup diri?        Yasudah, setidaknya kau pernah mengisi hati ini

Arti Kehidupan

Pancaran mentari pagi membelai lembut Kala ku memulai hari yang baru Desingan mesin jadi rutinitas merdu Kala kuda mesin ini mulai melaju Udara pagi menyapu pipiku pelan Aroma tanah basah menerobos pernapasan Jalanan masih sendu, sehabis menumpahkan rindu Dan aku, menyeruak di tengah rindu Banyak persepsi tentangmu bertebaran Namun, kau dengan anggunnya tak mempermasalahkan Ada yang bilang kau sumber ilmu Namun ada pula yang berkata bahwa kau perenggut kebebasan Dan aku, perempuan biasa yang hobi membaca Menurutku, kau bagaikan gudang ilmu Di mana pun aku menapaki jalan Kau selalu menebarkan ilmu milikmu Kau pula yang mengajarkanku arti kehidupan Arti persahabatan Arti cinta Dan arti pengkhianatan Kau berhasil membuat segala emosiku meluap Kau berhasil membuat tangis Namun kau juga melukis canda Bahagia, tertawa, dan terluka Itulah kehidupan Sekolahku yang tercinta Begitu banyak ingatan tentangmu yang tersimpan Begitu banyak sudut ...

Jangan Pergi Ibu..

Ibu.. Dengan sabar kau mengandungku Melahirkanku, membesarkanku hingga dewasa Sampai kau melihatku Menjadi orang yang berguna Tapi.. Sebelum aku sempat membalasmu Sebelum aku bisa membanggakanmu Kenapa dirimu telah pergi? Kau tinggalkan aku sendiri Membuatku terombang ambing di lautan kehidupanku Baru kusadari, apa yang telah kau ajarkan Mengajariku pelajaran hidup yang utama Hidup tanpamu.. Hidup tanpa kasih sayangmu Hidup tanpa belaianmu Hidup tanpa nasihatmu Ohh.. Tuhan.. Mengapa Kau mengambilnya begitu cepat? Sebelum aku bisa membuatnya bahagia Sebelum aku bisa membuatnya bangga Tanpanya.. Sinar hidupku menjadi redup Cahaya hidupku hilang Semangat hidupku terasa kelam Kapan aku akan menyusulmu? Kapan aku bisa berkumpul denganmu? Bisakah sekali saja aku melihatmu lagi? Melihat senyummu, tatapan lembutmu.. Di akhir hidupmu aku tak datang Bahkan aku pun tak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya Melihat wajahmu yang lembut ...

Indahnya Lautan

Kudengar desiran ombak yang memecah keheningan Angin bertiup begitu kencang menambah kesunyian Bulan purnama bersinar terang, bintang – bintang berkelap – kelip Menambah indahnya pesisir pantai Kumelihat lampu – lampu di kejauhan Perahu – perahu kecil mengarungi lautan Itulah nelayan yang mencari nafkah Dengan mengambil kekayaan lautan Ohh.. lautku yang indah Kau begitu kaya, begitu banyak guna Dasar lautmu bagai istana Bagi para penghuninya Ohh.. Tuhan Aku bersyukur telah Kau ciptakan lautan Bersama dengan isi dan kekayaannya Untuk memenuhi semua kebutuhan Manusia di dunia

Mana Janjimu?

Dirimu yang kunanti Tak kunjung kembali Kerinduan yang melanda hati Membuat hidupku seakan-akan sepi Mana janjimu dulu? Janji bahwa kau akan kembali Janji kau tak pernah pergi Janji kau akan slalu di hati Kini, Semua telah berbeda Kau telah pergi dengan semua kenangan Kau pergi meninggalkan kerinduan Kenangan indah.. Saat kita bercanda tawa bersama Saat kita tersenyum bersama Saat kita bahagia bersama Kau tinggalkan pergi Dengan semua janji Semua kenangan Dan semua perasaan rindu Untukmu, seseorang yang kutunggu Terima kasih kau sudah pernah mewarnai hariku Terima kasih kau pernah menarik garis senyum di wajahku Terima kasih kau pernah membuatku berharga Untuk dirimu yang di sana Semoga kau slalu bahagia Dengan dirinya

Flashback

Rasa itu.. Entah kenapa rasa itu muncul lagi Rasa yang tak wajar bagi sesama teman Rasa yang banyak membuat tangis Yaitu.. Rasa cinta Kenapa aku suka padamu? Kenapa aku sayang padamu? Alasan apa yang bisa kuberikan? Kenapa kau muncul lagi di hidupku? Kenapa tak sedari dulu? Kenapa rasa itu baru muncul? Saat aku sudah tak suka denganmu Dirimu hadir membuat senyum Dirimu hadir membuat harapan Dirimu hadir lagi dan lagi Membuatku bahagia lagi Tapi, Aku tak sebahagia dulu Aku sudah tak ada rasa untukmu Kenapa kau tak begini sedari dulu? Kau terus mengisi hari-hariku yang kosong Mengisi perasaan sepi hati ini Menutup luka yang pernah ada Menoreh kenangan tak terlupakan Mungkin.. Aku akan bahagia bila kau lakukan dulu Aku akan amat senang dan bersemangat Bila itu ‘dulu’ Kini, rasa itu telah hancur Rasa itu telah musnah Seiring berjalannya waktu

Cahaya Harapan

Kulihat wajah itu Kuamati lekuk wajah itu Lalu kupandangi lagi, manis Siapakah dia? Lelaki pertama Yang membuatku tersenyum saatku sedih Membuatku senang saat ku gundah Tetapi, siapakah dia? Mengapa rasa itu muncul lagi? Getaran itu lahir lagi? Setelah sekian lama kubekukan Akhirnya luluh kembali Dia sedikit berbeda Bisa membuatku sedih Bisa membuatku gundah Bisa membuatku kesal Namun juga bisa melukis senyum lebar di wajahku Lelaki yang belum pernah kujumpa sebelumnya Dia tak seperti yang lain Dia menyebalkan, tapi juga menggemaskan Baru kusadari, Aku punya rasa untuknya Rasa yang tak biasa Rasa yang tlah lama kupendam Rasa yang tlah lama hilang

Hanya Senyum Pahit

Ku terdiam, ku terpaku Setelah mendengar kata itu Kata-kata yang langsung menembus jiwa Entah karena alasan apa Kusadari, dia masih berdiri di sana Aku tak kuasa Bibirku seakan terkunci Apa yang bisa aku katakan? Kutahan gejolak hati ini Kutahan genangan air mata ini Kutahan semua agar aku tegar Dan akhirnya aku pun menjawab Jawaban yang sebenarnya tak ingin kuucap Jawaban yang membuat wajah itu tanpa ekspresi Dia tersenyum Ya, dia tersenyum Tapi, itu hanyalah senyum kepedihan Senyum pahit itu menyayat hatiku Dia berusaha kuat Dengan terus tersenyum

Lentera Kecilku

Hidup ini suram Tanpa arah, tanpa tujuan Hanya jalan buntu yang kudapat Tanpa arah pasti tuk melangkah Kubutuh dia Kubutuh inspirator kecilku Kubutuh motivator hidupku Kubutuh dia.. penyemangat hidupku Pengisi relung-relung hatiku Meski dia tak sempurna Meski dia kadang membuatku gundah Meski dia susah dikendalikan Tapi hati ini tetap berkata, Aku sayang dia Dia bagai lentera kecil di kegelapan malam Dia bagai bintang penerang kegelapan Lentera kecil penentu arah Bintang kecil penerang arah Tanpa dia, akankah aku akan sebahagia ini? Akankah ku bisa tersenyum selebar ini? Akankah ku bisa tertawa selepas ini? Dia yang membuatku bangkit Dia yang menyadarkanku Dia yang sabar memberiku semangat Untuk berlanjutnya hidup ini Lelaki itu.. Yang melukis garis senyum di wajahku Yang menoreh kenangan indah di hidupku Yang membuatku melihat pelangi lebih lama Tuhan, sampaikan salamku untuknya Untuk lentera kecilku Yang kan slalu kukenan...

Kartiniku

Kala itu, wanita menderita Mereka tak punya hak yang sama Dibedakan dari kaum pria Tak dapat pendidikan, tak dapat kebebasan Terpenjara dalam gelapnya dunia Terperosok dalam jurang kebodohan Berjalan terseok dan tertatih Tanpa arah, tanpa tujuan Hingga akhirnya secercah cahaya datang Sosok pewujud beribu impian Sosok penghapus luka yang mendalam Sosok pembawa kesejahteraan Beliau berdiri tegap di sana Menyerukan semangat kaum wanita Mengajak mereka untuk bangkit berdiri Untuk melawan diskriminasi Beliau tegar hadapi rintangan Lawan segala penjajahan Penjajahan yang tak kenal siapa Yang hanya meninggalkan duka Beliau wanita tegar Wanita pejuang tak kenal lelah Seorang pejuang pemberi harapan Harapan berkilau bak lentera dalam kegelapan Raden Ajeng Kartini Beliaulah pejuang itu Pejuang yang tak pernah gentar Pejuang emansipasi wanita “Raden Ajeng Kartini, pencetus Habis Gelap Terbitlah Terang” “Raden Ajeng Kartini, yang slalu ter...

Hujan?

Ketika riak air turun setitik demi setitik dari tata surya Ku bersuka cita menyelami kenikmatan dunia tiada tara Warna warni cahaya nan apik berbaur menjadi satu Karena itupun ku teringat masa lalu Ya, kenangan itu, terlintas begitu saja Bagai pelangi yang indah, namun hanya fatamorgana Senyum dan bayangannya pun masih amat membekas Walau ku mengerti kini ku tak lagi pantas Kenangan demi kenangan pun teringat kembali Bagai rangkaian kisah masa lalu yang diputar kembali Masa-masa suka dan duka Yang sempat dilalui berdua Meski kini kutau kau sudah jadi miliknya Entah kenapa, hatiku kembali menghangat saat mengingatnya Seperti baru kemarin ku merasakan suka Dan langsung dihantam dengan duka Gerimis tipis membelai rambutku lembut Udara dingin melambai-lambai menebar ketenangan Energi positif perlahan memasuki pikiran Dan akhirnya ku tersadar akan satu kenyataan Bahwa ia tak lagi serupa, meski fisiknya masih sama

Sisi Kehidupan

Jauh di seberang sana Anak-anak usia belia Tak mengenal angka Bahkan huruf pun, mereka buta                        Di sana, sangat jauh di sana                        Mereka berjalan menyusuri hutan                        Tertatih mengarungi lautan                        Tuk sekedar duduk di rumah reyot                        Menanti guru memberi curahan ilmu Sekalipun hanya di bangunan tua Sekalipun ilmunya tak seberapa Sekalipun guru yang ada belum layak Tapi semangat mereka tak pernah padam                     ...

Pandangan Itu

Pandangan teduh mata itu Senyum lembut bibir itu Suara merdu mulut itu Membayangi pikiranku, setiap waktu Pandangan teduh penghangat hati Senyum menawan penyemangat diri Suara merdu membayangi hati Di mana pun kaki ini berdiri Dialah.. Yang meluluhkan hati ini Yang menembus tembok tebal dalam hati Yang masuk ke relung hati Tanpa permisi, tanpa berhenti.. Hallo kamu wahai malaikat hati Kan slalu kutunggu kau di sini

Sosok Emansipasi

Di kala mentari terasa suram Mendung tebal menyelimuti Seakan tidak ada harapan Tuk cahaya bersinar lagi Penjajahan dimana-mana Tidak hanya penjajahan fisik Tapi juga penjajahan hak Hak untuk belajar dan berkreasi Anak perempuan dipingit Tidak boleh menuntut ilmu Sehingga mereka menjadi bodoh Tidak bisa membaca ataupun menulis Anak gadis tidak punya kebebasan Mereka hanya memasak, menyapu, dan semua pekerjaan di rumah Tanpa tahu, bagaimana masa depannya Sungguh... Keadaan yang memprihatinkan Muncul lah sosok wanita pemberani Yang ingin haknya dihargai Dia berjuang tuk wanita Wanita-wanita di negeri ini Segala daya dan upaya dia kerahkan Tuk menggapai cita-citanya Pintu mulai sedikit terbuka Dengan berdirinya sebuah sekolahan Sekolahan yang hanya untuk perempuan Perjuangan beliau terus berkembang Sehingga terjadi perombakan Era baru telah terbuka Wanita-wanita cerdas dan berkarya Di era itu.. muncul lah kartini-kartini baru ...