Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Diary

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

1 of 365

1 Januari. Hari pertama pada setiap tahun. Dan kini, dunia telah semakin tua dengan bergantinya tahun menjadi 2018. Lembaran kisah pada tahun lalu telah tergantikan dengan calon kisah baru. Harapanku di tahun ini tak muluk muluk seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena aku sadar di umurku yang akan semakin bertambah ini, segalanya akan terasa lebih sulit bila aku tak merancang tujuan untuk masa depan. Harapanku di tahun ini adalah, semoga dilancarkan dalam menghadapi segala ujian akhir seperti Ujian Praktek, USBN, dan UN. Serta diberi kemudahan untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah. Semoga lancar SNMPTN, SBMPTN, dan harapanku yang paling besar adalah lolos USM PKN STAN, mulai dari awal hingga akhir. Kurasa itulah harapanku mengenai pendidikan lanjut. Untuk keluarga, harapanku semoga aku bisa membanggakan mereka. Setidaknya, tujuan utamaku setelah sukses nanti (aamiin) adalah menaikkan haji kedua orang tua serta kakek nenekku. Karena merekalah yang paling berjasa d...

2017 dan Secuil Pengalaman Baru

Awal tahun 2017, waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 11 masuk semester 2. Di awal tahun ajaran, ada salah satu wartawan dari Koran Memo yang mewawancarai organisasi pramuka di sekolahku. Hanya perwakilan saja sih, karena yang diwawancarai hanya BPH dan salah satu anggota dewan yang lain. Kebetulan, aku menjabat sebagai Kerani (sekretaris), maka otomatis aku ikut diwawancarai. Waktu itu, aku mengatakan bahwa impianku di tahun ini adalah menjadi Duta Kesehatan Remaja Kota Kediri tahun 2017 dan bisa membuat karya yang disukai orang lain. Ini terjadi pada awal bulan Januari 2017. Selain itu, aku juga sangat ingin memenangkan olimpiade siswa kota mata pelajaran fisika (karena memang dari kelas 10 aku sudah mengikuti bimbingan olimpiade di sekolahku). Namun, Allah berkehendak lain. Karena begitu padatnya kegiatan pramuka pada bulan Januari hingga Mei, aku jadi tidak bisa untuk berkonsentrasi pada sesuatu yang ingin aku raih. Hingga akhirnya, ketika teman-temanku mengikuti beberapa...

The Incredible Incident

Malam ini, di tempat yang sepi, gelap, dan dingin. Kami, anggota PRAMUKA masih saja diberikan materi loyalitas. Lelah memang, setelah seharian ini menjalani berbagai macam tes agar layak untuk menjadi dewan kerja satu tahun ke depan. Alhamdulillah, sekarang ini sudah sesi materi yang terakhir, setidaknya beberapa menit lagi kami dapat mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum materi selanjutnya keesokan hari. Mungkin kalian bertanya-tanya, 'apa sih enaknya PRAMUKA?' 'PRAMUKA banyak materi doang, gak seru!' 'Kurang kerjaan banget sih anak PRAMUKA, malming malah nginap di sekolahan'. Sungguh itu benar-benar persepsi yang SALAH. PRAMUKA bukan hanya melulu tentang materi, namun juga praktek, kerja nyata. Kami dididik menjadi seorang yang disiplin, berani, dan loyal terhadap ambalan kami. Jangan remehkan organisasi kami, karena sesungguhnya dalam organisasi inilah kami punya keluarga kedua. Tempat berbagi suka, duka, dan tawa bersama. Makanan pula tentunya hehe. Akhi...

Sesuatu yang Telah Pergi

Memang ya, sesuatu itu kalau sudah bukan milik kita lagi, kita baru merasakan betapa berharganya sesuatu itu. Saat masih memiliki, rasanya biasa saja, bahkan bisa dibilang bosan memilikinya. Namun, saat sesuatu itu sudah miliknya orang lain, maka rasa rindu pun akhirnya terasa juga. Rindu, inilah yang sedang kurasakan, rindu terhadap latihan rutin. Rindu masa-masa rapat bersama dewan EXPRESS, rindu candaan dan olokan mereka, rindu kebersamaan dengan mereka. Intinya, aku rindu menjadi Kerani DKA EXPRESS. Aku rindu mereka, sangat. Hidup terasa hambar karena jarang bertemu mereka. Dulunya, sanggar adalah tempat pertama yang kutuju saat pulang sekolah. Namun kini, aku hanya bisa melihat sanggar dari balkon depan kelasku, melihat betapa bahagianya dewan yang baru bermain-main di sanggar. Ya, sanggar sudah bukan milikku lagi, dan aku baru menyadari kalau sanggar benar-benar berarti bagiku. Aku pernah menangis di sana, aku juga pernah tertawa keras di sana. Aku juga pernah marah-marah di...

Malaikat Penolongku

Aku adalah tipe orang yang serius dan tertata. Sejak kecil, aku memang dididik untuk tidak banyak berbicara hal yang tak penting. Hal ini akhirnya menjadi kebiasaanku sejak kecil hingga remaja. Aku lebih suka sendiri saat belajar, meski begitu aku tak kurang pergaulan karena temanku pun bisa dibilang banyak, tapi bila belajar aku paling membenci keramaian. Saat SD aku lalui dengan biasa, saat ada yang ramai pasti aku langsung berteriak dan semuanya akan diam. Jadi saat itu aku masih bisa menyesuaikan diri. Saat SMP, Alhamdulillah aku masuk ke kelas Akselerasi. Mungkin beberapa dari kalian tau, kalau anak akselerasi itu rata-rata ber-IQ lebih dari 130. Dan biasanya anak-anak ber-IQ tinggi lebih introvert dan sikapnya cuek. Maka dari itu, saat SMP aku merasa lebih nyaman karena teman-temanku tidak banyak bicara saat belajar (meskipun saat bercanda juga ramai), tapi minimal mereka sangat menghargai guru saat mengajar. Maka dari itu, masa SMP kulalui dengan bahagia. Namun saat SMA, ak...

Senin dan Ingatan Lama

Senin. Aku sempat bertanya-tanya, apa yang harus kutulis di hari senin kali ini? Tepat pukul 06.30 aku memulai perjalanan ke sekolah. Gerimis tipis yang menghujani sedikit membuatku merinding karena dingin, masih sekitar 15 menit lagi hingga aku sampai di sekolahku tercinta. Jarak dari rumah ke sekolahku lumayan juga, sekitar 8 kilometer. Langit mendung sedikit gerimis inilah yang mengantar perjalananku menuju sekolah. Saat itu aku sedang berpikir, apa yang akan ku tulis hari ini. Karena masih stuck bingung harus mulai menulis dari mana, aku pun mulai melihat-lihat ke sekitar. Tepat saat aku melihat ke arah depan, terpampang nyata bangunan megah Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kediri. Di waktu yang sama pula, ingatan-ingatan masa lalu yang sebelumnya terurai menjadi puzzle pun seolah terpampang nyata di hadapanku. Saat ku melihat seorang perempuan berhijab dengan badge hijau di lengan kanannya -yang berarti ia masih kelas VII SMP- membawa berbagai tas, hingga kedua tangannya pe...

It’s My Choice

“Hey Saf! Kok ngelamun sih siang-siang gini? Kenapa gak kumpul bareng temen-temen aja di dalem?” tanya teman baruku, yang bernama Rina. Aku pun terkesiap dan langsung memaksa untuk tersenyum semanis mungkin. “Lagi pengen refresh pikiran aja Rin, di dalem rame, gak bisa tenang pikiranku,” aku pun hanya menjawab sekenanya saja. Dia pun terlihat kebingungan dan menengok ke dalam kelas, kelas tidak terlalu ramai karena teman-teman sedang asyik menonton film di proyektor. “Tapi pada gak rame tuh Saf, pada nonton film kok..” “Bagiku tetep aja rame! Aku lebih seneng sendiri daripada sama mereka!” tak sengaja aku menjawab dengan emosi, padahal maksud Rina baik, tetapi aku malah membentaknya. Tanpa berkata apa-apa dia langsung masuk kembali ke kelas dan menutup pintunya dengan agak kasar. Aku rasa dia agak kesal dengan omonganku barusan, ah sudahlah biarkan saja. Hari-hari kulewati dengan begitu berat, aku merasa teman-teman sekelasku ini terlalu banyak bicara dan hanya mementingkan...

Dewan Kerja Ambalan EXPRESS

Jumat. Banyak siswa siswi di sini menyukai hari jumat. Alasan mereka pun beragam, ada yang mengatakan bahwa di hari Jumat pulang sekolah lebih awal karena ada shalat Jumat wajib bagi kaum laki-laki. Ada pula yang beralasan di hari itu pelajaran lebih banyak jam kosong. Banyak alasan orang-orang menyenangi hari Jumat. Aku pun sebenarnya juga suka hari Jumat, namun entah kenapa hari ini terasa berbeda. Biasanya, setelah para laki-laki selesai shalat, aku dan teman-temanku PRAMUKA yang perempuan akan langsung berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur bersama. Namun, Jumat ini berbeda, kami tidak ke masjid bersama-sama dan kami juga jarang saling jumpa. Memang, regenerasi Dewan Kerja Ambalan sudah dilaksanakan seminggu yang lalu. Dan aku serta kawan-kawan juga sudah melepas jabatan kami. Awalnya memang terlihat menyenangkan, mengingat kami tidak akan terbebani akan tanggung jawab di organisasi lagi. Namun kini aku baru merasakan bedanya, sesuatu yang biasa ...

Kisah Nyata Beribu Makna (2)

Ini lanjutan curahan hatiku yang kemarin ya, hehe ^^ Saat itu juga aku memutuskan berkata “ lek kalian panggah ngerasa Fitri seng nggawe adewe menang, silahkan. Aku gak bakal maen sesok. ” Seketika umpatan kasar tak berdasar pun terlontar dari mulut tajam mereka. Aku berusaha untuk menulikan telingaku, ya, keputusanku sudah bulat dan aku tak akan merubah keputusanku kali ini. “ Karep karepmu, egois og dipek dewe ” “ Ngeroso dibutuhne cah-cah to? Heh we i duk opo-opo ” “ Nyadar o to we i duk opo-opo, rasah kakean polah ” Dan banyak lagi umpatan kasar lain yang mereka ucap, aku terus berusaha untuk menahan. Di hari itu, aku sama sekali tidak diajak bicara oleh mereka, aku pun merasa ogah dengan mereka. Sempat kudengar pembicaraan mereka, “ Gak usah nyedek-nyedek cah wi neh, ketularan egois we ngko. Sawangen ae, menang po ra dee wi ngko ndek pemilihan PPIS. ”       Sebenarnya aku juga merasa bingung, yang egois itu sebenernya yang mana ya? Mereka m...

Kisah Nyata Beribu Makna (1)

Lelah dan lapar. Hanya itu yang aku rasakan saat ini. Setelah sekian jam waktu yang ada kupakai untuk berlatih band kelasku. Sekitar 1 minggu lagi akan ada Kegiatan Tengah Semester di sekolahku. Di KTS kali ini ada berbagai lomba yang diselenggarakan, diantaranya adalah lomba band , pemilihan Putra Putri Idola Sekolah (PPIS), Story Telling , dan sebagainya. Setelah 3 minggu yang lalu ada pengumuman dan Technical Meeting tentang lomba-lomba, aku langsung dipilih untuk berpartisipasi dalam lomba band sebagai violis atau pemain biola serta dalam lomba pemilihan PPIS. Sebenarnya aku sudah sangat lama tidak menyentuh biola lagi. Dulu aku sempat berlatih biola saat masih kelas 3 SD dan berhenti semenjak SMP karena mulai padatnya kegiatan sekolah. Namun mau bagaimana lagi, aku sudah dipercaya oleh teman-teman untuk mengikutinya. Setidaknya ini terjadi karena kelasku bisa mendapat juara 2 band di KTS tahun lalu, jadi mau tak mau aku harus mengingat lagi bagaimana penghayatan dalam berma...

Aku dan Kepingan Masa Lalu

Namaku Safina Rahayu Utami, teman-teman kelasku biasa memanggilku Safina. Hampir 3 tahun yang lalu, aku hanyalah murid SMP biasa di salah satu Sekolah Menengah Pertama favorit di kota tempatku hidup 9 tahun belakangan ini. Masa SMP hanya kulalui selama 2 tahun, ya, saat itu aku terpilih menjadi salah satu murid Akselerasi di sekolah itu. Hari-hari menjelang Ujian Nasional saat itu berlalu begitu cepatnya hingga aku terbuai oleh waktu. Ujian sudah begitu dekat namun aku masih saja terbuai dengan kesenangan dan sama sekali tak terfikir untuk mulai fokus belajar untuk UN. Hingga akhirnya hari-H Ujian Nasional pun tiba dan semalamnya aku sama sekali tak belajar, saat itu aku masih terlalu candu bermain game hingga lupa waktu. Sebenarnya soalnya tidak terlalu sulit, awalnya aku mengerjakannya dengan lancar, namun ada beberapa temanku yang bertanya mengenai soal-soal mereka. Kujelaskan pada kalian dulu ya, aku adalah tipe orang yang ‘gak tegaan’ saat itu. Jadi kalau ada temanku yang ber...