Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Sosok Emansipasi

Di kala mentari terasa suram
Mendung tebal menyelimuti
Seakan tidak ada harapan
Tuk cahaya bersinar lagi
Penjajahan dimana-mana
Tidak hanya penjajahan fisik
Tapi juga penjajahan hak
Hak untuk belajar dan berkreasi
Anak perempuan dipingit
Tidak boleh menuntut ilmu
Sehingga mereka menjadi bodoh
Tidak bisa membaca ataupun menulis
Anak gadis tidak punya kebebasan
Mereka hanya memasak, menyapu, dan semua pekerjaan di rumah
Tanpa tahu, bagaimana masa depannya
Sungguh...
Keadaan yang memprihatinkan
Muncul lah sosok wanita pemberani
Yang ingin haknya dihargai
Dia berjuang tuk wanita
Wanita-wanita di negeri ini
Segala daya dan upaya dia kerahkan
Tuk menggapai cita-citanya
Pintu mulai sedikit terbuka
Dengan berdirinya sebuah sekolahan
Sekolahan yang hanya untuk perempuan
Perjuangan beliau terus berkembang
Sehingga terjadi perombakan
Era baru telah terbuka
Wanita-wanita cerdas dan berkarya
Di era itu.. muncul lah kartini-kartini baru
Yang berjuang tuk emansipasi wanita
Walau pun kartini sebenarnya telah tiada
Tapi perjuangannya kan slalu dikenang sepanjang masa..

Komentar

  1. Jadilah kartini-kartini masa kini yang tetap memprrjuangkan emansipasi :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Pathetic Love

Gadis berambut sepinggang dengan aksesori serba  pink  itu menyusuri koridor sekolah tanpa semangat. Berulang kali ia menghela napas berat, seakan tak kuat menghadapi hari ini. Beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan sinis, hal ini semakin membuat gadis itu merasa malas berada di sekolah. Kini, ia sudah bertekad kuat bahwa tak akan menemui laki-laki itu lagi. Sekalipun dulu sebelum kepindahannya mereka adalah sahabat karib, namun semuanya sudah terasa lain. Manusianya sama, namun rasa di antara mereka sudah berbeda. Sedikit manis, banyak pahitnya. Berbagai kasak-kusuk yang menyebut nama ‘Valda’ didengarnya sejak tadi, namun sama sekali tak dihiraukannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Gadis itu menghela napas lega ketika pintu kelasnya sudah semakin dekat, ia ingin segera masuk dan lepas dari pandangan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Bukan semua orang memang, hanyalah kaum perempuan saja. Ketika ia memasuki kelas, hanya beberapa orang saja yang sudah da...

Shefalia Anindita-Fatamorgana

Apakah ada yang salah denganku? Apakah tutur kataku aneh? Apakah sikapku tidak wajar? Apakah aku kurang sopan? Tidak. Kata tante aku tidak bersalah. Lalu, Mengapa aku dijauhi? Mengapa aku dianggap remeh? Mengapa aku direndahkan? Mengapa aku selalu di bully ? Mengapa aku tak pernah dianggap? Mengapa Ya Allah? ** "Assalamu'alaikum, selamat pagi murid-murid," ucap seorang guru berperawakan tinggi sambil memasuki sebuah kelas di SMA Harapan. "Pagi buu," jawab beberapa murid dengan malas. "Hari ini, ibu punya kabar baik untuk kalian." "Kabar baik apa bu? Mau ngasih kita libur tambahan ya?" tanya seorang gadis berperawakan sedang dan berbaju ngetat  sambil memainkan kukunya yang dilapisi kuteks jingga. Guru tersebut hanya menggeleng singkat lalu berjalan ke arah pintu kelas. "Mari masuk nak," ucap guru itu sambil berbicara dengan seseorang. "Ba..baik bu" Murid baru itu pun masuk ke ...

Synopsis The Sign of Four

My name is Doctor Watson. I worked as a doctor in the British Army for several years. But one day, I was shot in the shoulder and could not work in the army anymore. I retired from the army and came back to England. That is why I was living in London with my friend, Sherlock Holmes. My friend was a very clever man. He was the most famous private detective in London. Sherlock Holmes did not care id his clients were rich or poor. He enjoyed solving their interesting problems. He was very happy when he was working. One afternoon, he did not seem very happy. I was worried about my friend. Actually, he feel boring because he did not has some work. He can’t live without interesting problems and mysteries. At the moment, there was a knock at the door, our housekeeper came into the room carrying a small white card on a silver tray. Holmes picked up the card, Miss Mary Morstan. Perhaps, it is a new client for Holmes. Miss Morstan looked worried and unhappy. She tell us that her father was a ca...