Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Unexpected Meeting-8

Aku suka mendung di langit, tapi tidak di matamu.
**
Saat itu, Shefa sedang duduk di bangku koridor depan kelasnya sambil membaca novel sendirian. Namun, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk di sampingnya. Awalnya Shefa tak menghiraukan laki-laki itu, karena dia sedang fokus untuk membaca novel karangan penulis favoritnya yang baru saja rilis. Ia juga sama sekali tak menengok sekadar untuk tahu siapa laki-laki itu. Ia sangat tak peduli.
"Shef? Shefaa?" laki-laki itu mengibaskan tangannya di depan wajahku. Shefa yang merasa terganggu pun akhirnya melirik sedikit ke arahnya.
“Kamu? Ngapain di sini??” tanya Shefa histeris, ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan laki-laki menyebalkan ini.
“Aku kan murid baru di sini, jadinya belum banyak tahu tentang sekolah. Jadi yaa, aku duduk di sini aja dehh. Deket sih dari kelasku,” laki-laki itu menjawabnya sambil tersenyum manis sebenarnya, namun yang Shefa rasakan hanyalah senyum kemunafikan.
Shefa tak membalas ucapan laki-laki itu, ia hanya melirik sebentar lalu menekuni novelnya lagi. Berharap dengan dicuekin seperti ini, laki-laki itu akan pergi dengan sendirinya karena bosan.
“Shefaa??” laki-laki itu lagi-lagi memanggil namanya. Dengan kesal, Shefa akhirnya melirik tajam.
"Apa?" jawab Shefa ketus. Laki-laki itu benar-benar mengganggu kedamaiannya saat membaca novel di waktu istirahat, jadi ia merasa kalau bukan salahnya bila sikapnya jutek.
“Kok diam aja? Kamu sakit ya?” wajahnya terlihat khawatir, entah cuman fake atau tidak. Shefa mengernyit sedikit.
“Liat sendiri bisa kan? Aku tuh gak sakit!” jawab Shefa amat sebal. Ia sempat berpikir, sebenarnya laki-laki ini tuh datangnya dari planet mana sih? Benar-benar menyebalkan dan tak tahu diri.
“Iya iya, gak usah sewot gitu deh,” jawab laki-laki itu sambil menghempaskan tubuhnya di sandaran bangku.
“Ngapain sih di sini mulu? Ke tempat lain gak bisa ya? Ganggu ketenanganku aja!” ucap Shefa geram. Sungguh, ia merasa amat kesal, kenapa pula di waktu luangnya saat ini laki-laki itu harus muncul dan mengganggu kedamaiannya? Shefa berharap ada malaikat yang tiba-tiba datang untuk menyelamatkannya dari situasi yang ia benci ini.
“Yaa kan aku belum kenal sekolah ini, takutnya nyasar kan malah bahaya. By the way, temenin keliling sekolah yuk?” laki-laki itu mengajaknya sambil tersenyum manis. Seketika aura sepanjang koridor itu terasa horror karena para perempuan di sana melirik sinis ke arah Shefa yang sedang duduk bersama laki-laki itu.
Shefa mengernyit tak suka, kenapa pula harus dirinya yang menemani laki-laki ini keliling sekolah? Macam kurang kerjaan saja. Dan juga Shefa tak mau mengorbankan waktu bacanya hanya untuk menemani laki-laki ini, karena dia bukanlah siapa-siapa. Nothing!
"SEMPAKKKKK!" derap langkah kaki yang sedang berlari dan suara cempreng yang khas itu mendekat ke arahnya dari ujung koridor. Biasanya, Shefa akan sangat malu apabila kawannya ini sedang kumat begini. Namun kali ini, ia sangat bersyukur punya sahabat yang gak tau malu kayak Revi. Seenggaknya, Shefa bisa menghindar dari ajakan laki-laki gak tahu diri ini.
“Habis dari mana aja sih Rev? Tadi diapain aja sama Pak Banu?” tanya Shefa mengawali pembicaraannya dengan Revi, berharap laki-laki ini segera pergi karena merasa diabaikan. Namun sayang, kali ini dewi fortuna tak berpihak pada Shefa.
“Eh, Radit? Kok bisa di sini Dit?” Revi tak menghiraukan Shefa, ia malah mengajak ngobrol Radit yang sedang stay cool dengan muka innocentnya yang menurut Shefa amat menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi ya si Revi ini. Teriaknya sekeras toa dari ujung koridor buat neriakin namanya, namun pas udah dekat, dia malah ngajak ngobrol si curut mesum ini.
“Eh iya Rev, aku sih pindah ke sekolah ini. Kebetulan banget ya bisa satu sekolah sama kamu?” ucap Radit namun melirik ke Shefa, mungkin maksud Radit menyindirnya. Namun yang disindir sudah asyik sendiri dengan novel tebal karya Tere Liye yang sejak tadi digenggamnya.
“Iya nih Dit, by the way kamu kelas mana Dit? Kok bisa nyasar sampek ke sini,” ucap Revi antusias. Di antara mereka bertiga, yang paling semangat untuk mengobrol hanyalah Revi.
“Kelasku sih sebelah, XI-MIPA 2. Kalian kelas XI-MIPA 1 kan?” jawab Radit dengan santai. Seberkas senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.
Shefa tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting, dan dia harus mengatakannya pada Revi sekarang!
“Rev, kita belum shalat. Ayo shalat dulu, ‘ngobrolnya’ dilanjut nanti aja,” ucap Shefa sambil berdiri dan menutup novelnya. Tanpa menantikan jawaban dari Revi, ia langsung melenggang pergi masuk ke kelas untuk meletakkan novel sekaligus mengambil mukena dari lokernya.
Saat Shefa akan meninggalkan kelas dengan teman perempuannya yang lain, Revi baru akan menyusul Shefa dengan tergesa-gesa dan memohon untuk ditunggu. Benar-benar deh anak itu, sekali ketemu yang agak bening aja pasti susah diajak ngomong sama temen sendiri.
“Buruan! Kurang 10 menit istirahatnya habis nih! Mana masjid jauh banget lagi dari sini,” ucap Sheila, teman sekelas Shefa.
“Iya iya bawel! Udah nih, yuk!” ajak Revi setelah mengubek-ubek lokernya yang tak berbentuk karena tak pernah ditata olehnya. “By the way, lo kok langsung pergi aja gitu sih Shef? Kan Radit tadi nungguin lo,” ucap Revi sambil membenahi seragamnya yang agak kusut.
“GAK PEDULI!” ucap Shefa keras. Lalu ia langsung menyeret Sheila untuk segera pergi ke masjid, ia tak ingin membahas hal yang tak penting menurutnya.

Komentar

  1. Savina... Enak banget bacanya. Kamu benar2 berbakat jadi novelis. Teruskan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin kak, terima kasih banyak atas apresiasinya ^^ Jangan lupa mampir lagi yaa..^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

First Impression

“Shariaaa tungguinnnn,” teriak seorang gadis berjilbab putih dari ujung koridor sambil mengangkat sedikit rok biru dongker nya agar langkahnya lebih leluasa. Bros berwarna merah dengan bentuk stroberi yang terpasang manis di kepala sebelah kirinya berayun-ayun kecil mengikuti setiap langkah kakinya yang tergesa. Sementara di ujung koridor yang lain, gadis dengan seragam yang sama dengan gadis tadi masih berjalan santai tanpa menghiraukan teriakan kawannya itu. Langkahnya tetap sama, tanpa berkeinginan untuk mengurangi kecepatannya. Dari wajahnya tersirat senyuman iseng yang menyebalkan, tentu tanpa sepengetahuan kawannya. “ Hoy Shariaaa!! Tungguinn!” teriak gadis itu lagi sambil menambah kecepatannya untuk menyusul kawannya yang sedang menulikan diri. “ Hueh dipanggilin daritadi juga,” ucap gadis itu setelah bisa menyejajarkan langkahnya dengan gadis satunya, nafasnya lumayan terengah juga karena berlarian dari kelas mereka yang terletak di koridor paling ujung. “Salah sendiri...

A Pathetic Love

Gadis berambut sepinggang dengan aksesori serba  pink  itu menyusuri koridor sekolah tanpa semangat. Berulang kali ia menghela napas berat, seakan tak kuat menghadapi hari ini. Beberapa pasang mata melihatnya dengan pandangan sinis, hal ini semakin membuat gadis itu merasa malas berada di sekolah. Kini, ia sudah bertekad kuat bahwa tak akan menemui laki-laki itu lagi. Sekalipun dulu sebelum kepindahannya mereka adalah sahabat karib, namun semuanya sudah terasa lain. Manusianya sama, namun rasa di antara mereka sudah berbeda. Sedikit manis, banyak pahitnya. Berbagai kasak-kusuk yang menyebut nama ‘Valda’ didengarnya sejak tadi, namun sama sekali tak dihiraukannya. Seolah-olah tak terjadi apa-apa. Gadis itu menghela napas lega ketika pintu kelasnya sudah semakin dekat, ia ingin segera masuk dan lepas dari pandangan mencemooh orang-orang di sekitarnya. Bukan semua orang memang, hanyalah kaum perempuan saja. Ketika ia memasuki kelas, hanya beberapa orang saja yang sudah da...

Secuil Cerita Tentang ODOP dan Aku

Menulis. Sesuatu hal yang menurut beberapa orang mudah. Awalnya, aku pun merasa begitu karena semua beban yang ada di ubun-ubun bisa kutuangkan dalam tulisan. Meskipun bentuknya benar-benar awut-awutan dan jauh dari kata benar. Selama itu, aku masih merasa bahwa menulis adalah sesuatu hal yang mudah sebelum kutemukan komunitas menulis paling keren yang benar-benar kucintai ini. One Day One Post . Awal memasuki komunitas ini, aku merasa ketar-ketir juga karena takut tak bisa konsisten dalam menulis. Hingga akhirnya hari demi hari berlalu dan aku beserta 46 orang lainnya dinyatakan lulus dari ODOP. Tapi, perjuangan tak hanya sampai di situ saja. Masih ada materi untuk kelas lanjutan yang mewajibkan anggotanya untuk memilih antara fiksi atau non fiksi. Dan karena kesenanganku adalah berkhayal, maka aku pun memilih fiksi untuk menjadi kelanjutan studiku. Masuk di kelas fiksi, aku merasa benar-benar bodoh. Tulisanku jauh sekali di bawah kawan-kawan seperjuangan yang rata-rata sudah...