Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Unexpected Meeting-9

Aku hanyalah penikmat senyummu. Bukan pemilik, apalagi penyebab.
**
Sesampainya di masjid, Shefa langsung buru-buru melepas sepatu beserta kaus kakinya dan beranjak wudhu. Langkah kakinya tergesa dikarenakan sebentar lagi waktu istirahat akan usai. Sesekali, ia memijit pelipis kanannya untuk mengurangi rasa sakit, namun hal itu tak berpengaruh banyak. Kepalanya masih saja pusing dan tubuhnya terasa lemas, namun ia berusaha untuk tak menganggap penting rasa itu.
Tepat saat Shefa salam untuk mengakhiri shalatnya, bel masuk berbunyi pertanda jam pelajaran selanjutnya telah dimulai. Namun kali ini Shefa tak perlu cepat-cepat memburu waktu seperti tadi, karena baru saja ketua kelasnya memberi kabar bahwa Bu Elia ada workshop di luar kota dan mereka diberi tugas membuat essay. Sheila dan Revi berjalan di depannya sambil bercakap-cakap ringan tentang Radit, sementara Shefa sama sekali tak tertarik akan topik pembicaraan itu. Radit yang berstatus sebagai murid baru dengan paras tampan menurut perempuan sebayanya itu memang menarik hati banyak kawannya, namun pengecualian bagi Shefa.
Shefa berjalan sambil menunduk, imajinasi liar akan sesuatu tiba-tiba muncul di kepalanya. Namun, ia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Shefa tak ingin imajinasi itu membuatnya menjadi perempuan yang penuh harapan. Ia tak siap untuk itu.
“Shef, Shefa? Ngapain?” tanya seseorang sambil memegang dahi Shefa. Suaranya terdengar berat, yang jelas suara itu bukan dari Sheila ataupun Revi.
“Astagfirullah! Kamu lagi? Ngapain sih kamu harus muncul lagi hari ini?” jawab Shefa frustasi. Kepalanya yang sejak tadi terasa pusing jadi makin memburuk gara-gara kehadiran laki-laki ini.
“Apa salahnya sih? Kan kita satu sekolah, tetanggaan pula kelasnya. Salah ya kalau aku muncul di hadapanmu?” laki-laki itu seperti tak memperhatikan ekspresi Shefa yang sudah naik darah dari tadi. Ia menjawab segala cercaan Shefa dengan tenang dan senyuman.
“SALAH BANGET DITYA!” teriak Shefa dengan mata yang berkilat. Sekilas, ia tersentak karena memanggilnya dengan nama Ditya. Namun, Shefa langsung dapat menutupi rasa kagetnya dengan segera berlari dari hadapan Radit.
Apa? Ditya? Oh tidak, aku benci panggilan itu,” batin Radit dengan muka datar. Pertengkaran antara Radit dan Shefa barusan memang sebelas dua belas dengan adegan yang ada di drama Korea, tak lupa dengan penonton gratis yaitu Sheila dan Revi yang daritadi hanya saling berpandangan dengan wajah bingung.
“Emm, Dit? Maaf soal..,” Revi berusaha mewakili Shefa untuk meminta maaf pada Radit.
“Gak masalah Rev, duluan ya,” potong Radit cepat sambil menyunggingkan senyum simpul yang amat tipis. Moodnya berubah seketika saat mendengar Shefa memanggilnya dengan nama ‘Ditya’. Revi hanya menanggapi dengan senyum yang terpaksa, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh salah satu dari mereka. Sesuatu yang amat dalam sepertinya, entah itu Radit ataupun Shefa sendiri.
“YA TUHAN REV MIMPI APA GUE BISA LIAT SENYUMNYA RADIT SEDEKET INI!!” teriak Sheila tiba-tiba. Revi yang masih kebingungan dengan sikap Shefa dan Radit akhirnya terganggu juga karena ada Sheila yang heboh sendiri di sana. Mau tak mau, ia harus menanggapi ucapan Sheila dulu agar tak terlihat mencurigakan.
Shef, lo hutang banyak cerita ke gue,” batin Revi sambil memaksakan senyumnya menanggapi celotehan Sheila.
**
Bel tanda pelajaran telah usai yang sudah ditunggu-tunggu banyak kalangan akhirnya berbunyi juga. Desahan napas lega terdengar di berbagai sudut karena akhirnya terbebas juga dari ulangan geografi dadakan yang diberikan oleh Pak Ahmad. Arfa, seorang laki-laki dengan rambut yang selalu dilapisi pomade itu merenggangkan otot tangannya. Lelah juga setelah bergerilya lirik sana-sini untuk mendapatkan jawaban.
Pak Ahmad kali ini memang sangat menyebalkan menurut mereka. Sudah jam pelajarannya ada di dua jam terakhir, jarang masuk, pakai ulangan dadakan segala lagi. Uraian pula! Bayangkan deh, orang-orang seperti Arfa yang tak terlalu peduli akan lebar inti bumi begini kan jadi gak bisa jawab Pak! Gimana mau jawab, gak ada satu kata pun yang terlintas di pikiran mereka mengenai pelajaran geografi. Apalagi di awal pelajaran Pak Ahmad sudah pernah bilang bahwa ketika mengerjakan harus minimal 4 halaman folio penuh, bila tidak maka beliau tidak akan menilai. Nah loh, cobaan apalagi ini Ya Allah.
Alhasil, Arfa dan kawan-kawan nyontek bersama. Mereka meminta jawaban ke teman-teman perempuannya yang rajin untuk awalan dari jawaban mereka, selepas itu jadilah ajang mengarang bersama. Karena Pak Ahmad selalu melihat paragraf awal dan panjang jawaban, selain itu tak pernah diperhatikan oleh beliau. Arfa yang paling dahulu mengumpulkan jawabannya, bulir-bulir keringat keluar dari pelipis serta dahinya pertanda ia baru saja menyelesaikan sesuatu yang teramat berat baginya.
Sekilas, Pak Ahmad membaca kertas jawaban Arfa, lalu beliau mengangguk-angguk. Sementara Arfa masih mengembalikan alat-alat tulis yang ia pinjam untuk ulangan barusan.
“Bagus Arfa, tumben jawaban kamu masuk akal seperti ini,” ucap Pak Ahmad sambil tersenyum bangga. Semacam melihat oase di padang pasir, namun nyatanya hanyalah fatamorgana.
“Terima kasih Pak, kerja keras saya semalam itu Pak,” jawab Arfa bohong. Sementara para siswi yang tadi saat ulangan berbaik hati memberikan jawaban meliriknya dengan tajam, gondok sekali melihat tampang Arfa yang tak tahu terima kasih seperti itu.
“Baik Arfa, kamu boleh pulang terlebih dahulu,” ucap Pak Ahmad masih tersenyum bangga. Arfa yang tak ingin merusak mood gurunya saat itu pun dengan sopan melangkah ke Pak Ahmad untuk mencium tangannya. Berbagai gerutuan terdengar dari berbagai sudut sementara Arfa dengan santainya melenggang keluar kelas.
BRUK!
“HEI!”

Komentar