Langsung ke konten utama

Untaian Kata

Orang bilang, untaian kata dapat mewakili rasa. Orang bilang, untaian kata dapat menghancurkan segalanya. Orang bilang, untaian kata dapat membangun rasa percaya. Bagiku, untaian kata dapat memporak-porandakan rasa di dada. Apalagi ketika kau berkata bahwa semuanya tak lagi sama. Kita yang dahulu pernah sedekat nadi, namun kini harus saling berjauhan bagai bumi dan matahari. Kita yang dahulu pernah saling mengisi hari-hari, kini saling melupakan apa yang pernah terjadi. Secepat itukah, sebuah rasa harus kurelakan. Secepat itukah, rasa sayang harus diikhlaskan. Secepat itukah, hati ini harus dihancurkan. Kamu. Seorang yang berhasil mengisi hatiku beberapa belas bulan belakangan. Namun sayang, kini tak ada lagi yang bisa diharapkan. Dariku, yang masih memiliki perasaan.

Unexpected Meeting-13

Apakah mungkin mereka adalah orang yang sama? Apakah mungkin aku masih dipertemukan lagi dengan dirinya? Tidak! Aku tak ingin mengingatnya lagi. Aku benci dengannya, ya, aku harus benci dengannya! Seharusnya aku sudah tak mengingatnya lagi saat ini, ya, itulah yang seharusnya! Tapi, perasaan ini tak bisa terbendung lagi. Perasaan rindu tak bertuan yang tiba-tiba merayapi hatiku perlahan. Dafia, mungkinkah aku rindu padamu sekarang?
**
It's time to have first break.
“Shef, ke toilet dulu yuk. Kebelet nih udah di ujung,” ucap Revi sesaat setelah bel tanda istirahat berbunyi. Kebetulan, saat itu mereka jam kosong tanpa tugas karena guru yang seharusnya mengajar merawat putrinya yang sedang sakit di rumah. Revi yang memang sudah menahan hasratnya untuk buang air kecil sejak tadi langsung saja menarik Shefa agar menemaninya.
“Iya iya sabar dulu deh Rev,” sahut Shefa sambil tangannya meraba laci meja untuk mencari novel favoritnya yang belum habis ia baca. Setelah novel yang dimaksudnya sudah berada di genggaman, ia langsung berjalan kalem menuju Revi yang sudah ada di ambang pintu menunggunya dengan tak sabaran.
“Buruan Shefaaa!! Keburu keluar nihhh,” teriak Revi heboh di ambang pintu. Matanya melotot karena melihat Shefa yang jalannya santai-santai seperti itu. Sesampainya di dekat pintu, Revi langsung menyambar lengan Shefa dan menariknya tanpa ampun. Sejak tadi, Shefa memang iseng ingin menjahili Revi, ternyata kena juga. Ia terkikik kecil sementara lengannya masih ditarik kuat oleh Revi yang terlihat seperti ibu-ibu akan melahirkan.
Sementara itu, jauh dari keramaian murid yang sedang menikmati waktu istirahat, ada dua orang laki-laki yang sedang bersitegang di suatu tempat. Seragam mereka sudah terlihat kusut tak beraturan, di hidung salah satu dari mereka juga sudah mengalir darah segar.
“Lo! Jangan macam-macam lagi ke cewek itu. Karena dia itu, cuman milik gue!” ucap salah seorang dari mereka dengan tangan mengepal kuat.
“Milik lo? Emang lo udah jelas-jelas pacarnya dia? Cih! Belum ada status aja udah banyak bacot lo!” jawab yang satunya sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Sekujur tubuhnya juga mulai terasa sakit karena tendangan serta pukulan dari laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. Ia ingin menyerah, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui yang sebenarnya.
“Dia emang bukan siapa-siapa gue, karena dia itu milik gue! Mending lo cepet ngejauh aja deh dari dia, lo itu bukan levelnya Raf. Sadari itu!” ucap laki-laki itu lalu segera meninggalkan seseorang yang dipanggil ‘Raf’ tadi.
Tunggu aja pembalasan dari gue Ran! Lo gak bakal bisa dapetin dia semudah itu,” batin laki-laki tadi sambil berusaha berjalan normal meski rasa sakit di sekujur tubuhnya makin terasa.
**
Shefa dan Revi sedang berjalan santai menuju kantin setelah dari toilet. Namun, ketika melewati koridor kelas dua belas, suasana mendadak hening. Para kakak kelas melihat ke arah Shefa dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada yang kagum, ada yang biasa saja, namun banyak pula yang membencinya. Shefa sendiri tak merasakan aura panas yang berada di sekitarnya ketika mereka melewati koridor itu, justru Revi lah yang merasakannya.
“Shef, kamu diliatin kakak kelas tuh,” ucap Revi mengecilkan suaranya agar tak terdengar oleh orang-orang di sekitarnya yang notabene menatap mereka dengan tajam.
“Masa sih?” tanya Shefa lalu sekilas melihat ke sekitar. Saat itu ia melihat banyak kekak kelasnya, apalagi yang berdandan menor menatapnya sinis. “Ah biarin aja, gak usah dipikirin Rev,” lanjut Shefa lagi. Shefa memang masihlah Shefa yang dulu. Ia sama sekali tak menyadari hawa mencekam yang disalurkan oleh para kakak kelas perempuan yang menatapnya.
Sesampainya di kantin, seperti biasa Revi lah yang memesan makanan sedangkan Shefa mencarikan tempat duduk untuk mereka berdua. Kebetulan, tempat duduk yang kosong berada tak jauh dari tempat duduk Sandi dan teman-temannya. Sandi yang mengetahui Shefa duduk sendiri di meja sebelahnya pun langsung izin ke teman-temannya untuk menemani Shefa. Sontak, teman-teman langsung riuh gara-gara alasan yang baru saja diutarakan oleh Sandi.
“Wuih, udah mulai terang-terangan nih si Sandi. Lanjutkan terus San!” ucap salah satu dari ketiga teman Sandi yang membuat teman lainnya ramai mengejek Sandi. Sementara Sandi sendiri hanya tersenyum menanggapi keramaian teman-temannya itu.
“Hai Shef, sendiri aja nih?” sapa Sandi sambil duduk di hadapan Shefa yang sedang serius membaca novel tebal dalam genggamannya.
“Eh Sandi, enggak sih aku sama Revi kok. Cuman dia masih pesen makanan buat kita berdua. Nah kamu gak makan San?” jawab Shefa sambil tersenyum sumringah. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Sandi akan mendatangi dirinya sekarang, seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua tadi pagi.
“Ohh, udah pesan kok. Masih on the way kali pesananku,” jawab Sandi sambil tersenyum manis. “Oiya Shef, kamu ada ID Line gak?” tanya Sandi tiba-tiba. Shefa yang tak menyangka akan ditanyai seperti itu oleh Sandi pun merasa kaget sekaligus senangnya bukan main. Ia ingin sekali berteriak senang, namun ia takut suaranya akan menjadi pusat perhatian orang-orang di kantin.
“Punya kok, memangnya kenapa San?” tanya Shefa akhirnya. Itu adalah kata-kata yang menurutnya paling tepat untuk diucapkannya saat ini.
“Boleh aku minta? Buat nambah friendlist nih,” ucap Sandi masih tersenyum manis. Shefa dibuat meleleh olehnya, degup jantungnya selalu berdetak keras tak karuan gara-gara Sandi.
“Tentu saja boleh,” jawab Shefa sambil tersenyum manis. Senyum tulusnya pada laki-laki untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama.
Sementara itu, ada sepasang mata yang sedari tadi menatap kebersamaan mereka dari kejauhan. Orang itu segera pergi dari kantin setelah melihat Shefa tersenyum manis pada laki-laki yang ada di hadapannya, ia takut kalau Shefa sudah menjatuhkan hatinya untuk laki-laki itu.

Komentar

  1. Alangkah baik jika paragrafnya dipisah mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya kak siap, makasih banyak koreksinya kak🙏

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017 dan Secuil Pengalaman Baru

Awal tahun 2017, waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 11 masuk semester 2. Di awal tahun ajaran, ada salah satu wartawan dari Koran Memo yang mewawancarai organisasi pramuka di sekolahku. Hanya perwakilan saja sih, karena yang diwawancarai hanya BPH dan salah satu anggota dewan yang lain. Kebetulan, aku menjabat sebagai Kerani (sekretaris), maka otomatis aku ikut diwawancarai. Waktu itu, aku mengatakan bahwa impianku di tahun ini adalah menjadi Duta Kesehatan Remaja Kota Kediri tahun 2017 dan bisa membuat karya yang disukai orang lain. Ini terjadi pada awal bulan Januari 2017. Selain itu, aku juga sangat ingin memenangkan olimpiade siswa kota mata pelajaran fisika (karena memang dari kelas 10 aku sudah mengikuti bimbingan olimpiade di sekolahku). Namun, Allah berkehendak lain. Karena begitu padatnya kegiatan pramuka pada bulan Januari hingga Mei, aku jadi tidak bisa untuk berkonsentrasi pada sesuatu yang ingin aku raih. Hingga akhirnya, ketika teman-temanku mengikuti beberapa...

Hujan?

Ketika riak air turun setitik demi setitik dari tata surya Ku bersuka cita menyelami kenikmatan dunia tiada tara Warna warni cahaya nan apik berbaur menjadi satu Karena itupun ku teringat masa lalu Ya, kenangan itu, terlintas begitu saja Bagai pelangi yang indah, namun hanya fatamorgana Senyum dan bayangannya pun masih amat membekas Walau ku mengerti kini ku tak lagi pantas Kenangan demi kenangan pun teringat kembali Bagai rangkaian kisah masa lalu yang diputar kembali Masa-masa suka dan duka Yang sempat dilalui berdua Meski kini kutau kau sudah jadi miliknya Entah kenapa, hatiku kembali menghangat saat mengingatnya Seperti baru kemarin ku merasakan suka Dan langsung dihantam dengan duka Gerimis tipis membelai rambutku lembut Udara dingin melambai-lambai menebar ketenangan Energi positif perlahan memasuki pikiran Dan akhirnya ku tersadar akan satu kenyataan Bahwa ia tak lagi serupa, meski fisiknya masih sama

Secuil Cerita Tentang ODOP dan Aku

Menulis. Sesuatu hal yang menurut beberapa orang mudah. Awalnya, aku pun merasa begitu karena semua beban yang ada di ubun-ubun bisa kutuangkan dalam tulisan. Meskipun bentuknya benar-benar awut-awutan dan jauh dari kata benar. Selama itu, aku masih merasa bahwa menulis adalah sesuatu hal yang mudah sebelum kutemukan komunitas menulis paling keren yang benar-benar kucintai ini. One Day One Post . Awal memasuki komunitas ini, aku merasa ketar-ketir juga karena takut tak bisa konsisten dalam menulis. Hingga akhirnya hari demi hari berlalu dan aku beserta 46 orang lainnya dinyatakan lulus dari ODOP. Tapi, perjuangan tak hanya sampai di situ saja. Masih ada materi untuk kelas lanjutan yang mewajibkan anggotanya untuk memilih antara fiksi atau non fiksi. Dan karena kesenanganku adalah berkhayal, maka aku pun memilih fiksi untuk menjadi kelanjutan studiku. Masuk di kelas fiksi, aku merasa benar-benar bodoh. Tulisanku jauh sekali di bawah kawan-kawan seperjuangan yang rata-rata sudah...